Masa Lalu itu Menggelikan

Seumpama sebuah landasan pacu pada pesawat tempur. Di masa lalu, saya adalah pengemudi yang buruk, dan hal itu memberi ingatan kuat betapa harapan dan keinginan seperti jarum pada tumpukan jerami.

Dulu saya mudah percaya kepada apapun yang disampaikan selama ia mengandung unsur sukses atau jalan pintas menuju kesana.

Ukurannya tentu karena ia dibicarakan banyak orang, bahkan walau beberapa orang saja selama yang bercerita adalah teman saya sendiri. Tidak lama kemudian pasti saya ambil keputusan untuk mengikuti polanya.

Bodohnya teman saya ini jika dipikir-pikir juga kebujuk rayuan kata-kata yang dulu saya lihat sebagai kekuatan ajaib. Maka saya dan teman seperti sebuah kumpulan keledai di kandang yang hanya bisa mengembik tanpa isi.

Lewat bujukan itu tak lama kemudian saya banting setir, ingin menjadi pengusaha kaya raya, terpandang karena kemampuan, diakui karena kehebatan seperti selayaknya entrepeneur keren di sosial media.

Ketika hendak dicoba dengan beberapa macam dagangan, belum sampai taraf usaha. Gerak saya seperti siput yang tak jelas jluntrunganya. Pendek kata saya bodoh dan bebal. Terlampau percaya diri untuk pengetahuan yang cetek.

Sementara perut lapar tidak bisa ditunda, dan keinginan untuk mengeruk kekayaan tetap bertengger di kepala, saya memutar otak dengan menjual apa yang kira laku demi bertahan di kota yang serba berkepentingan ini.

Mulanya saya jual Blackberry, yang kebetulan laku dua juta sekian ribu rupiah. Hidup bisa berjalan mundur dengan tenang. Aktivitas tetap bisa dilakukan, mencoba silaturahmi ke beberapa teman lama kiranya ada yang menghasilkan.

Perlu diketahui, kalau saya itu memutuskan mencetat dari kegiatan yang sangat menghasilkan dengan tingkat percaya diri melebihi Thanos pada serial avenger end games.

Jadi sangat wajar jika teman lama menganggap saya punya sumber penghasilan baru, dan ini menyakitkan. Ingin bercerita sebenarnya tentang keadaan yang menyedihkan itu, namun saya mafhum bahwa tidak ada yang menerima cerita kesedihan maupun kekalahan atau hal semacam itulah.

Ada yang salah memang dengan cara saya berteman saat muda beda dan berhahahaha dulu. Saya dan teman lebih suka menarik hormon endorphin dari kegiatan yang mengeluarkan uang, padahal ada banyak hal selain itu.

Silaturahmi tidak membawa hasil, kecuali dana yang gak seberapa itu makin mengenaskan. Saya salah perhitungan, dan jelas kalau tidak boleh diulangi. Karena hanya menambah repot dan masalah baru.

Setelah hape hilang, saya mendapati tulisan kecil yang terpacak di halaman ketiga sebuah koran yang berbunyi – dicari elektronik bekas – tak lama kemudian saya ingat kalau masih ada yang berguna untuk dijual. Tv, Tape serta sound lengkap.

Tak lama kemudian saya merogoh kantong, mengambil hape dan menghubungi no yang tertera di sana.

Saya : Pak Nasir nerima jual electronic ya

Nasir : Iya mas dengan siapa ini. Merk tv-nya apa, saya cek dulu.

Saya : Bisanya kapan ya pak, saya sudah di kost nih

Nasir: Nanti malam mas habis saya salat isya.

Saya : Baik pak, saya sms ya pak alamatnya.

Saya duduk di teras kos, selain menunggu juga sedikit butuh ketenangan agar tidak salah langkah. Melihat profile picture teman kemudian membatin, ini sudah saatnya, saya dan dunia.

Untungnya rumah kos saya agak sepi dan tenang yang hanya dihuni seorang Ibu tua dengan satu anak pria tambun yang hobinya menjadi pencundang dalam segala hal.

Keadaan Ibu ini memang ada turunan kaya. Suaminya mantan petinggi bank mandiri yang bertugas di Jakarta pada era Soeharto, ia lahir sebagai anak pertama dari bapak yang juga petinggi di Kantor Pos.

Namun keberlimpahan itu saya rasa tidak akan bertahan lama karena ulah putra dan dua putrinya yang kurang bisa memanfaatkan kondisi orang tuanya di saat mereka muda.

Mudah ditebak semakin lama karena minimnya keahlian mencari penghasilan semua anaknya hanya bisa mengantunggkan hasil uang kontrakan, kos dan deposito yang gak seberapa itu.

Saat awal bulan suaranya seperti petir baru tiba di awal musim hujan, ia menanyakan kewajiban untuk membayar kos, dan saya dengan tegap selalu bilang. Nanti malam, dengan nada mantap dan bersahabat.

Tv dan segala perlengkapan sound untuk menemani saya di kala itu sudah ditebas karena harapan yang gagal diraih. Hidup bisa berjalan mundur dengan tenang untuk kedua kalinya.

Ditemani segelas kopi di warung mbok Ginuk, menjumput rokok, melebarkan bagasi hati, menampung semua yang perlu ditampung untuk kemudian dilupakan. Menebak-nebak apa yang salah dan apa yang perlu diperbaiki dalam waktu singkat. Sendiri dan pedih.

Blackberry putih dengan keyboard yang hampir semua goresan hurufnya hilang itu saya pencet-pencet, entah angin apa yang datang tiba – tiba henpon berbunyi.

Tertulis di layar hape, Ibuk.

Saya tidak bisa berbohong walau hal itu baik dan perlu, seumur-umur Ibuk belum pernah sekalipun telpon untuk menanyakan kabar saya, karena kerap kali saya menghubungi terlebih dulu dalam waktu singkat dan berdekatan. Kadang sehari sekali, kadang dua hari sekali, atau bisa sehari dua kali. Tapi, di hari itu ada yang berbeda Ibuk seperti cenayang dan tahu kondisi saya dalam keadaan remuk dan hancur.

Saya mengerti bahwa segala hal di dunia ini bisa kita prediksi selama kita mampu, serta cukup modal pengetahuan yang mumpuni. Masalahnya saya lupa dan kurang tahu diri, kalau modal dan pengetahuan saya tidak cukup mumpuni untuk berdiri di kaki saya sendiri.

Hari demi hari dilalui hanya dengan membaca buku-buku jelek, yang dewasa ini membuat saya tahu, bahwa ada penulis di luar sana yang punya kebiasaan buruk seolah mereka adalah bagian dari penentu nasib manusia lain, bahwa mungkin ia berhasil melalui pola itu, bisa jadi iya. Namun mereka lupa kalau ia masih manusia, saya juga. Dan kami sama-sama tidak bisa mejangkau tuhan.

Tidak bergerak adalah kebodohan kedua yang saya pahami, mengutuk nasib yang ditekuk oleh dunia hampir tidak ada untungnya sama sekali, protes dengan keadaan membuat kebodohan itu tampak satu strip lebih tinggi.

Segala hal sudah dicoba untuk bertahan, menjual apa yang perlu, mencoba apa yang bisa, melakukan hal yang diharapkan menjadi jembatan hidup dari hari ke hari. Di situasi demikian saya jadi sadar bahwa di dunia ini kita minimal punya satu keahlian, tidak perlu banyak. Cukup satu.

Maka dengan pengetahuan minim, tapi tekad sekuat baja. Saya mulai sering membaca hal yang berkaitan dengan internet marketing. Mulai mengerti apa itu affiliate, apa itu adsense, clickbank, amazon. Dan tentu saja social media advertising.

Internet mencetak saya menjadi manusia baru, bertumbuh ditemani hal-hal yang bersinggungan dengan digitalisasi membuat saya menjadi agak kurang lihai dalam hal komunikasi. Dulu saya tipikal yang mudah bergaul nongkrong sana sini, lihai menciptakan suasana kondusif dan tentu saja nuansa bercanda ala Surabaya.

Perkenalan dengan internet membuat saya tidak lagi tertarik melakukan hal seperti dulu lagi, lebih baik belajar hal baru dan praktek. Tentu ini menghabiskan waktu dan tenaga juga uang yang gak sedikit, namun perubahan besar ini bagi saya seperti melakukan pemberhentian sebentar untuk kemudian melaju kencang melewati apa yang sudah tertinggal.

Kita tahu bahwa tiap click di internet itu ada nilainya, dan setiap platform punya pola kelebihan dan kekurangannya masing-masing, bahwa tiap platform bisa di monitize untuk mengeduk kekayaan itu benar, teman saya sudah banyak yang membuktikan.

Namun di era algoritma yang terus berkembang mengikuti pola pikir manusia ,internet seperti dua sisi mata uang. Dan bagaimanapun kita menghindar percuma saja. Yang benar adalah beradaptasi agar tahu lebih kurangnya bagaimana jika terjun di era digital ini.

Segala hal jika berlebihan itu tidak baik, dewasa ini saya lebih mengimani sesuatu seperti timbangan, bukan karena saya berzodiak libra. Barangkali begini, kita bertempur melupakan apa yang perlu dan wajib kita lakukan sehari-hari, tujuannya agar kebiasaan kita membuat diri semakin bertumbuh.

Bermasyarakat sejatinya adalah saling mempengaruhi, modalnya adalah pengetahuan. Ukuran menjadi benar bukang barang sepele di era seperti sekarang, kemudahan informasi membuat yang muda semakin berani untuk menentukan sikap. Dan yang tua semakin enggan untuk mengalah hanya karena ia tua.

Apa mereka ini tahu bahwa di zaman kiwari mengandalkan senioritas tak ubahnya barang rongsokan yang tak laku dijual, jangankan dijual ditawarkan ke khalayak umum pun tidak ada yang menoleh, apalagi menawar. Dunia ini memang kejam, kata pemalas. Namun bukan begitu sebenarnya, dunia ini bergerak cepat, dan kamu tidak bisa mengandalkan pola lama untuk tetap laku di pasaran.

Walau begitu mendambakan dunia ideal seperti yang dikira sepertinya percuma saja, sebab di belahan bumi manapun tidak ada yang demikian, kita hanya bisa bergerak semampu yang kita bisa meski hidup cuma begini. Masa lalu memberi sesuatu yang tidak bisa kita tolak, dan ia memberi kamu kewenangan untuk berbuat bagaimana dan seperti apa di masa depan, karena rasa sakit memang sebaiknya tidak untuk dihindari namun diperbaiki.

Leave a Reply