Era Digital yang Dibanggakan Milenial

Kita sebagai penghuni era digital pernah ada di situasi penuh percaya diri, kalau kita cukup terampil mengurai masalah di sekitar, menjadikannya bahan atau produk untuk dijual, hingga kemudian kita bisa mengeduk kekayaan dari sana.

Di era yang serba terenkripsi, algoritma menyuguhi kita informasi yang dalam keadaan tidak sadar kita ingin, lalu Ia tiba-tiba muncul di hadapan. Segala kemungkinan bisa terjadi, kesempatan begitu terbuka lebar, bagi ia yang tahu dan mau beradaptasi.

Tapi kesempatan itu tidak datang dengan atau tanpa persoalan, karena banyak kesempatan membuat siapapun menjadi something dengan begitu mudah.

Kemudahan itu bisa jadi acuan kenapa millenial sangat gampang sekali stres bahkan frustasi ketika mendengar kabar atau melihat postingan temannya di sosial media, karena otomatis ia akan membandingkan dirinya dengan teman tersebut.

Menurut Alain de Botton, inilah salah satu penyebab kita hidup dalam anxiety. Banyaknya peluang, kesempatan, serta berbagai kisah sukses ternyata bisa bikin kita bingung dan gelisah. Tidak selalu membuat seseorang terinspirasi, yang ada malah julid, tipikal netizen banget ya. *siul

Dengar kabar tiba-tiba si anu startupnya dapat funding, si itu cabangnya nambah di berbagai kota. Ada banyak jalan untuk menggapai segala kemungkinan itu.

Anyone can be anything, you determine your own succes.

Internet menjembatani siapapun untuk menjadi raja, yang di era lama hal ini muskil terjadi. Ada pola baru bagaimana dunia ini digelar, tanpa sekat, lintas benua. Yang tangguh akan tetap berdiri, karena skill di adu di atas pentas, fair play.

Tidak ada sogok sana sini seperti generasi terdahulu, birokrasi bagi milenial di zaman kiwari adalah urusan kesekian. Halah prek *katanya

Karena prinsipnya, anyone can be anything, you determine your own succes maka benar adanya jika kamu gagal dan tidak jadi seperti yang kamu inginkan, hal itu seratus persen salah kamu sendiri.

Tapi kesialan saat ini bukan klenik, ia bisa diantisipasi dengan informasi yang tersaji luas, yang effectnya membuat bagasi ingatan kita menjadi gembos.

Google menjadi platform yang dibutuhkan semua umat di dunia, dan kita merasa punya peganggan informasi yang kita kira ia tangguh, kuat dan berbudi. Padahal ada transaksi keuntungan kenapa Google bisa sedemikian masif melakukan perubahan, dan kita manusia semakin kurang lihai karena kurangnya memperdayakan isi kepala.

Sedangkan Tuhan menciptakan satu fitur gratis yang jika digunakan ia bisa kuat hingga sembilan puluh tahun, fitur itu bernama otak.

Dari semua kecemasan yang ada, pantulan sikap atas sesuatu yang dikabarkan di sosial media membuat para orang tua tidak lagi menetapkan nilai sesuai kaidah masyarakat sekitar, tapi juga masyarakat internet, yang sebenarnya hal itu dibutuhkan literasi khusus bagaimana hadir di Internet.

Dada saya seperti dipukul palu ketika salah satu remaja di Malaysia menyudahi hidupnya dengan sangat sepele, melalui Instagram story ia memakai salah satu fitur, dan membuat pilihan apakah hidup perlu diteruskan atau tidak, dan sialnya pilihan jatuh pada sesuatu yang membuat kita miris.

Sosial media memberi kita ruang anonim, tanpa ikatan perasaan yang kita tidak perlu hadir di sana secara utuh, tindakan jari kita yang tergambar dari bagaimana bagasi pikiran membuat seseorang tidak punya aturan dan batasan untuk berinteraksi, orang jawa bilang angger njeplak, yang hal ini tidak mungkin kita dapati di dunia nyata, berhadap-hadapan.

Yang saya tahu sosial media hadir untuk sebuah solusi karena batasan Geografis sangat susah ditempuh oleh banyak orang sekaligus, dan mereka menjembatani itu dengan membuat satu aplikasi untuk menemukan satu sama lain, tapi sepertinya hal itu tidak bisa diantisipasi bahkan oleh pembuatnya sendiri.

Semakin kesini makna tujuan awal sosial media membuat kita anti sosial, nggak peduli, acuh dan bebal. Yang penting score kita naik, kita jadi orang yang pertama tahu, jadi pusat informasi yang mengabarkan sesuatu agar di apresiasi, kita seperti haus pengakuan hingga membuat seseorang melakukan hal yang konyol.

Zaman kiwari dengan kemajuan teknologi seperti ini memiliki dua sisi pedang, dan tentu melahirkan luka-luka baru yang dulu tidak pernah ada, presenter kondang Marissa memutuskan untuk menyudahi bermain sosial media, karena ia merasa bahwa hidup semakin tidak bahagia, ada banyak syarat yang semakin kesini membuat diri kita tidak bertumbuh kalau dilihat sisi lain.

Dunia yang digelar tanpa batas ini membuat kita semakin dilema, ukuran bermasyarakat yang dulu saat kecil kita pelajari tidak lagi bisa diterapkan di situasi saat ini, bagaimana tidak, ketika para anggota dewan mengeluarkan perkataannya memaki-maki di kanal publik tanpa aturan, yang harusnya bisa digunakan untuk membuat pergerakan mencari sesuatu yang benar bagi banyak orang.

Di era digital yang mengabarkan dulu dianggap benar, ketimbang yang melakukan verifikasi adalah sebuah anomali, dan sebagai pedagang konten mereka mengecernya satu paragraf demi traffic juga bisa dimengerti, toh masyarakat kita juga tidak begitu peduli soal bagaimana mengkonsumsi sebuah kabar.

 

Leave a Reply